Minggu, 06 April 2014

lanjutan anfis cairan tubuh I



Pergerakan Cairan
Cairan tubuh normalnya berpindah antara kedua kompartemen atau ruang utama dalam upaya untuk mempertahankan keseimbangan nilai cairan. Hilangnya cairan intra seluler (CES) ke dalam ruang yang tidak mempengaruhi keseimbangan antara cairan intra seluler dengan ekstra seluler, (CIS) dan (CES) disebut sebagai perpindahan cairan ruang ketiga. Efek dari perpindahan cairan ruang ketiga yaitu ditandai dengan pening, peningkatan frekuensi jantung, penurunan tekanan darah, penurunan tekanan intra sentral (TIS), edema, peningkatan berat badan, dan ketidakseimbangan dalam masukan dan haluaran cairan.
Pergerakan cairan yang normal melalui dinding kapiler ke dalam jaringan tergantung pada kenaikan tekanan hidrostatik (tekanan yang dihasilkan oleh cairan pada dinding pembuluh darah) pada kedua ujung pembuluh arteri dan vena.

Pertukaran Cairan dalam Jaringan

Cairan dalam plasma berada di bawah tekanan hidrostatik lebih besar dari pada tekanan interstisial. Didalam plasma ada banyak protein, sedangkan cairan interstisial mengandung sedikit protein. Protein plasma ini mengeluarkan kekanan osmotok yang berusaha menghisap cairan masuk kedalam pembuluh kapiler.
Pada ujung  kapiler arteri, tekanan hidrostatik lebih besar daripada tekanan osmotic, yang mengakibatkan cairan terdorong masuk dalam jaringan. Sedangkan pada ujung kapiler vena tekanan hidrostatik kurang. Secara normal cairan yang  meninggalkan kapiler lebih banyak dari pada pembuluh yang masuk ke dalam kapiler, kelebihan ini disalurkan melalui limfe (getah bening).

Pertukaran antara cairan intraseluler dan ekstraselular juga tergantung pada tekanan osmotik. Akan tetapi membrane sel mempunyai permeabilitas selektif dan dilalui oleh beberapa bahan seperti okigen, karbon dioksida, dan ureum secara bebas. Mekanisme ini memompakan bahan lain masuk atau keluar untuk mempertahankan kensentrasi dalam cairan intraselular dan ekstraselular.

Fisiologi Cairan Dalam Tubuh
Pencegahan kehilangan darah, apabila pembuluh darah terputus atau pecah, dilakukan oleh berbagai mekanisme yaitu cairan tubuh dan darah. Cairan tubuh untuk menjaga agar cairan tubuh relatif konstan dan komposisinya stabil merupakan hal yang penting. Dalam pengaturan yang mempertahankan kekonstanan cairan tubuh diperlukan adanya pengaturan volume cairan tubuh, cairan ekstraselular, keseimbangan asam dan basa, control pertukaran antara kompartemen cairan ekstraselular dan intraselular.

Keseimbangan ciran. Dalam tubuh yang sehat 60% dari berat badan adalah air yang terdiri dari 2 komponen :  bagian cairan intraselular (65% dari cairan tubuh) dan  bagian cairan ektraselular (35% dari cairan tubuh). Cairan tubuh merupakan sarana untuk mentranspor zat makanan dan metabolisme membawa nutrient mulai dari proses absorpsi, mendisrtibusikan sampai ke tingkat intraselular.

Homeostasis
pengaturan fisiologi digunakan untuk mengembalikan keadan normal apabila terganggu. Cairan tubuh merupakan objek homeostasis karena dalam cairan tubuh diatur keseimbangan bermacam-macam elektrolit. Homeostasis juga mengatur keseimbangan asam dan basa. Cairan tubuh diatur agar suhu tubuh selalu konstan  dengan cara mekanisme produksi dan pelepasan panas.

Distribusi cairan tubuh:
1.      Cairan intrasel. Cairan yang berada didalam sel dibawah suatu bentuk pengendalian karena membrane sel bersifat permeable dan cairan dalam sel harus mempunyai mekanisme terlarut untuk mencegah masuknya air yang tidak terkendali dan mengeluarkan cairan secara terkendali. Volume air dalam sel tidak dapat di ukur.
2.      Cairan ekstrasel. Cairan yang berada diluar sel atau diantara sel (dalam jaringan), terdiri dari volume CES yang diukur karena batas ruang yang sukar ditetapkan. CES terdiri dari :
a.      Cairan interstisial: cairan yang berada diantara sel jaringan.
b.      Cairan intravaskuler (plasma): cairan yang berada dalam pembuluh darah yang mwmbawa oksigen kedalam jaringan dan mengeluarkan karbon dioksida.
c.       Cairan limfe: cairan yang berada dalam pembuluh limfe yang mengangkut partikel protein kedalam pembuluh darah.
d.      Cairan transeluler: cairan yang berada ditempat khusus misalnya cairan otak, cairan sendi, cairan bola mata,dll.
Tekanan osmotik yang dihasilkan oleh cairan plasma
Arah perpindahan cairan tergantung pada perbedaan dari kedua arah yang berlawanan ini (tekanan hidrostatik dari osmotik).
Selain elektrolit CES juga mengangkut substansi lain, seperti enzim dan hormon. CES juga membawa komponen darah seperti sel merah dan sel darah putih, ke seluruh tubuh.

Osmosis dan osmolaritas
Perpindahan air terjadi melalui membran dari daerah dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut tinggi sampai dengan kedua konsentrasi tersebut sama.
- Difusi
Merupakan kecenderungan alami dari suatu substansi untuk bergerak dari suatu area dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah konsentrasi yang rendah. Difusi terjadi melalui perpindahan tidak teratur dari ion dan molekul. Gerakan molekul dan ion cenderung mengisi seluruh ruangan yang tersedia, darah yang terlarut selalu berada dalam gerakan yang acak menyebar dari daerah konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai konsentrasi sama pada seluruh larutan.
- Filtrasi
peristiwa ketika sebuah benda cair dipaksa melintasi membrane atau penyekat karena perbadaan tekanan hidrostatik pada kedua belah sisinya. Molekul yang lebih kecil dapat melintas dengan zat cair, sedangkan molekul yang lebih besar tertahan. Hail ini terjadi apabila tekanan hidrostatik didalam pembuluh lebih besar dari tekanan didalam jaringan (diluar pembuluh)
- Pompa natrium-kalium
Konsentrasi natrium lebih besar dalam CES di banding di CIS oleh karena itu ada kecenderungan natrium untuk memasuki sel dengan cara difusi. Hal ini diimbangi juga oleh pompa natrium-kalium yang terdapat pada membran sel dan sel aktif memindahkan natrium dari sel ke dalam CES. Sebaliknya konsentrasi kalium intraseluler yang terjadi dipertahankan dengan memompakan kalium ke dalam sel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar